Monday, February 11, 2013

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Diare Pada Bayi di Poliklinik Anak Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen Tahun 2011



BAB I
                                                       PENDAHULUAN


A. Latar Belakang              
Menurut data UNICEF(The United Nations Children’s Fund) dan WHO(World Health Organization) pada tahun 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor dua pada balita di dunia, nomor tiga pada bayi dan nomor lima bagi sejumlah umur. Data UNICEF memperkirakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare. Angka tersebut lebih besar dari korban AIDS, malaria dan cacar jika digabung, sayangnya dibeberapa negara berkembang hanya 39 % penderta mendapatkan penanganan serius (Hillevd, 2011).
Diare adalah  merupakan salah satu penyakit menular dengan peningkatan kasus kesakitan dan kematian yang signifikan di bereapa daerah Indonesia, terutama pada golongan umur di bawah lima tahun masih merupakan masalah kesehatan yang harus dapat diperhatikan yang lebih serius dari berbagai lapisan masyarakat, terutama pemerintah melalui bidang kesehatanya (Hidayat, 2006).
Pada anak dan keluarga diare merupakan masalah yang kompleks, masalah yang sering timbul akibat diare seperti kurangnya  volume cairan, kurangnya nutrisi, gangguan intergritas kulit, kurangnya pengetahuan (keluarga), kecemasan dan ketakutan.  Masalah kurang pengetahuan (keluarga) pada anak dengan diare ini dapat disebabkan oleh karena informasi yang kurang atau budaya yang menyebabkan tidak mementingkan pola hidup yang sehat. Sehingga rasa ingin tahu masih kurang, khususnya dalam penanganan diare. Untuk itu rencana yang dilakukan adalah mengatasi agar keluarga memahami atau mengetahui cara mengatasi masalah diare (Hidayat, 2006).
Tingginya kasus diare dapat disebabkan oleh lingkungan dan prilaku masayarakat karena diare merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan (Depkes RI, 2000).
Menurut Alimul, 2007 ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya diare pada bayi dan balita yaitu faktor pendidikan, lingkungan, pengetahuan dan sosial ekonomi, bisa juga disebabkan faktor malabsorbsi gizi dan psikoligi.
Penyakit diare apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan beberapa komplikasi diantaranya yaitu terjadinya dehedrasi, renjatan hipovolemik, hipokalamia, intolerasi laktosa sekunder, kejang dan kurang energi protein (FKUI, 2005).
Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak terutama di negara berkembang, dengan perkiraan sekitar 1,5 milyar dan 1,5-2,5 juta kematian tiap tahun.Sekitar 85% kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan (Misnadiarly, 2005). Menurut laporan Dep Kes RI (2009), di Indonesia setiap anak mengalami diare 1,6-2 kali setahun dan angka kematian dengan diare sebanyak 20,3 %.
Menurut survei pemberantasan penyakit diare tahun 2009 bahwa angka kesakitan atau insiden diare terdapat 301 per 1000 penduduk di Indonesia. Angka kesakitan diare pada balita adalah 1,0-1,5 kali per tahun. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depkes RI (2009), bahwa 10% penyebab kematian bayi adalah diare. Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahun diare menyerang 50 juta penduduk Indonesia dan dua pertiganya adalah bayi dengan korban meninggal sekitar 600.000 jiwa (Widjaj, 2009).
 Pemerintahan Aceh, kejadian diare menduduki urutan ke empat dari 10 besar penyakit sebesar 18,9% pada tahun 2010. Berdasarkan dari data di Dinas Keehatan Kabupaten Bireuen tahun 2010  terdapat  98  bayi usia 4-6 bulan yang terkena diare. Sedangkan laporan dari Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen yang terkena diare pada bayi usia 4-6 bulan berjumlah 45 orang bayi dan balita (Rekan Medis Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen)
Terkait dengan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian “ Gambaran  Pengetahuan Ibu Tentang Diare Pada Bayi di Poliklinik Anak Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen Tahun 2011”.              

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana? Pengetahuan Ibu Tentang Diare Pada Bayi di Poliklinik Anak Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen Tahun 2011 Kabupaten Bireuen.



C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan  Umum
Untuk mengetahui gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Diare Pada Bayi di Poliklinik Anak Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui gambaran  pengetahuan ibu  tentang pengertian diare.
b.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang  penyebab  diare .
c.       Untuk mengetahui gambaran  pengetahuan ibu   tentang tanda dan gajala diare.
d.      Untuk mengetahui gambaran  pengetahuan ibu  tentang pencegahan  diare.
e.       Untuk mengetahui gambaran  pengetahuan ibu  tentang penatalaksanaan diare.

D. Manfaat Penelitian
1.      Bagi Responden
Memberikan informasi atau pengetahuan, serta menambah wawasan ibu  tentang diare.
2.      Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan bagi pihak poliklinik Anak Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen tentang pentingnya penanganan dan  pencegahan diare.

3.      Bagi Insitusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan pengetahuan dan untuk melanjutkan penelitian selanjutnya.
4.      Bagi Peneliti
Untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dipelajari di bangku kuliah serta dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam menyusun karya tulis ilmiah.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini hanya menfokuskan pada Pengetahuan Ibu Tentang Diare Pada Bayi di Poliklinik Anak Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen.

F. Keaslian Penelitian
Beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengetahuan ibu tentang diare pada bayi adalah sebagai berikut :
1. Rismayani  (2009), meneliti Pengaruh Persepsi Ibu Balita Tentang Penyakit Diare Terhadap Tindakan Pencegahan Diare di Keluharan Terjun Kecamatan Medan Marelan.
2. Hamdani (2008) meneliti  Pengaruh Faktor Upaya Pengobatan dan Pencegahan yang di Lakukan Ibu Pada Balita Terhadap Penyakit Diare Di Puskesmas Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya.
3. Yessi (2008), meneliti Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Perikaku Ibu Tentang Pencegahan Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Depok .
4. Dari beberapa penelitian di atas tidak mempunyai kesamaan dengan yang akan penulis teliti. Sehingga penelitian ini dapat dikatakan asli.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan adalah hasil tahu yang terjadi setelah manusia melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Teori pengetahuan berkaitan dengan sumber-sumber pengetahuan. (Notoatmodjo, 2003)
2. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo, 2003), yaitu:
a. Tahu (Know)
7
Tahu diartikan sebagai mengikat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang palig rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.


b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebabkan contoh, menyimpulkan, mengamalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks situasi yang lain.
d. Analisa (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat mengambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagianya.
e. Sintesis (Syinthesis)
Sistem menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, pemerencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebaliknya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan denagan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu meteri atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang sudah ada.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhui pengetahuan 
Menurut Meliono,(2006) faktor yang mempengaruhi sumber pengetahuan adalah :
a.       pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku   seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
b.      Media yang secara khusus di desain untuk mencapai masyarakat yang luas
( televise, Koran, majalah, dan lain-lain).  
c. Keterpaparan informasi yaitu sesutu yang dapat diketahui, namun ada yang menekankan informasi sebagai trasnsfer pengetahuan.





B. Diare
1. Pengertian Diare
Menurut WHO (2000), secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Sedangkan menurut Depkes RI (2005), diare adalah salah penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari.
Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal ini sangat relatife terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto, 2002).

2. Penyebab Diare
Beberapa perilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinya diare pada balita, yaitu (Depkes RI, 2007):
a.       Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama pada kehidupan. Pada balita yang tidak diberi ASI resiko menderita diare lebih besar dari pada yang diberi ASI penuh, dan kemungkinan menderita dehidrasi berat lebih besar.
b.      Menggunakan botol susu, penggunaan botol ini memudahkan pencermaran oleh kuman karena botol susu dibersihkan. Penggunaan botol yang tidak bersih atau sudah dipakai selama berjam-jam dibiarkan dilingkungan yang panas, sering menyebabkan infeksi usus yang parah karena botol dapat tercemar oleh kuman-kuman/bakteri penyebab diare. Sehingga balita yang menggunakan botol tersebut beresiko terinfeksi diare.
c.       Menyimpan makanan masak pada suhu kamar, bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar, makanan akan tercemar dan kuman akan berkembang biak.
d.      Menggunakan air minum yang tercemar
e.       Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak.
f.       Tidak membuang tinja dengan benar, seringnya beranggapan bahwa tinja tidak berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Selain itu tinja binatang juga dapat menyebabkan infeksi pada manusia.
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan enam besar, tetapi yang sering ditemukan di lapangan adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Penyebab diare secara lengkap adalah sebagai berikut : (1) infeksi yang dapat disebabkan : 1) bakteri, misalnya : Shigella, Salmonela, E. Coli, golongan vibrio, bacillus cereus, Clostridium perfringens, Staphyiccoccus aureus, Campylobacter dan aeromonas, b) virus misalnya : Rotavirus, Nerwalk dan Norwalk like agen dan adenovirus, parasit, misalnya : cacing purut, Ascaris, trichiuris, Strongyloides, Blastsistis huminis, protozoa, entamoeba histolitica, giardia labila, belantudium coli dan crypto, (2) alergi, (3) malabsorbsi, (4) keracunan yang dapat disebabkan : a) keracunan bahan kimiawi dan b) keracunan oleh bahan yang dikandung dan diproduksi: jasat renik, ikan, buah-buahan dan sayur-sayuran, (5) imunodefiensi dan (6) sebab-sebab lain (Widaya, 2004).
Diare dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit, terutama natrium dan kalium dan sering dengan asidosis metabolik . Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan defisit air dan keseimbangan serum elektrolit. Setiap kehilangan berat badan yang melampaui 1 % dalam sehari merupakan hilangnya air dari tubuh. Kehidupan bayi jarang dapat dipertahankan apabila defisit melampaui 15 %  (Soegijanto, 2002).

3. Tanda dan Gejala Diare
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai : muntah, badan lesu atau lemas, panas, tidak nafsumakan, darah dan lendir dalam kotoran, rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala-gejala lain seperti flu mislanya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi (Amiruddin, 2007).
Menurut Ngastisyah (2005), gejala diare yang sering ditemukan mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang, tinja mungkin disertai lendir atau darah, gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare. Bila penderita banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai Nampak, yaitu berat badan menurun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang. Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan elektrolit yang melebihi pemasukannya (Suharyono, 2006). Kehilangan cairan akibat diare menyebabkan dehidrasi yang bersifat ringan, sedang atau berat.

4. Klasifikasi Diare
Departemen Kesehatan RI (2000), mengklasifikasikan jenis diare menjadi empat kelompok yaitu :
a.       Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya kurang dari tujuh hari).
b.      Disentri yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya
c.       Dare persisten yaitu diare yang berlangsung lebih dari  empat belas hari secara terus menerus
d.      Diare dengan masalah lain , anak yang menderita diare (diare akut dan persisten) mungkin juga disertai penyakit lain seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
Diare akut dapat mengakibatkan : (1) kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia, (2) gangguan sirkulasi darah, dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah, (3) gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah (Soegijanto, 2002).
Diare mengakibatkan terjadinya :
a.       Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, dan asidosis metabolik.
b.      Gangguan sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau prarenjatan sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai dengan muntah, perpusi jaringan berkurang sehingga hipoksia dan asidosis metabolik bertambah berat, kesadaran menurun dan bila tak cepat diobati penderita dapat meninggal.
Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah, kadang-kadang orang tuanya menghentikan pemberian makanan karena takut bertambahnya muntah dan diare pada anak atau bila makanan tetap diberikan dalam bentuk diencerkan. Hipoglikemia akan lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah berat badan. Sebagai akibat hipoglikemia dapat terjadi edema otak yang dapat mengakibatkan kejang dan koma
           (Suharyono, 2008).

5. Pencegahan Penyakit Diare
Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yaitu : pencegahan tingkat pertama (primary Prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat, dan pencegahan tingkat ketiga (tertiary Prevention) yang meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi (Nasrt, 2007).
a.    Pencegahan primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada faktor penyebab, lingkungan dan faktor penjamu. Untuk faktor penyebab dilakukan upaya agar mikroorganisme penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air bersih dan sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis dilakukan untuk memodifikasi lingkungan. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari penjamur maka dapat dilakukan peningkatan status gizi dan pemberian imunisasi.
1)       Penyedian air bersih
Air adalah salah satu kebutuhan pokok hidup manusia, bahkan hampir 70 % tubuh manusia mengandung air. Air dipakai untuk keperluan  makan, minum, mandi, dan pemenuhan kebutuhan yang lain, maka untuk keperluan tersebut WHO menetapkan kebutuhanat  perorang per hari untuk hidup sehat 60 liter. Selain dari peranan air sebagai kebutuhan pokok manusia, juga dapat berperan besar dalam penularan beberapa penyakit menular termasuk diare (Sanropie, 2004).  
Sumber air yang sering digunakan oleh masyarakat adalah : air permukaan yang merupakan air sungai, dan danau. Air tanah yang tergantung kedalamnya bisa disebut air tanah dangkal atau air tanah dalam. Air angkasa yaitu air yang berasal dari atmosfir seperti hujan dan salju (Soemirat, 2006).
Air dapat juga menjadi sumber penularan penyakit. Peran air dalam terjadinya penyyakit menular dapat berupa, air sebagai penyebar mikroba pathogen, sarang insekta penyebaran penyakit, bila jumlah air bersih tidak mencukupi, sehingga orang tidak dapat membersihkan dirinya dengan baik, dan air sebagai sarang hospes semestara penyakit (Soemirat, 2006).
Dengan memahami daur/sirkulasi air di alam semesta ini, maka sumber air dapat diklasifikasikan menjadi : a) air angkasa seperti hujan dan air salju, b) air tanah seperti air sumur, mata air dan artesis, c) air permukaan yang meliputi sungai dan telaga. Untuk pemenuhan kebutuhan manusia akan air, maka dari sumber air yang ada dapat dibangun bermacam-macam saran penyediaan air bersih yang dapat berupa perpipan, sumur gali, sumur pompa tangan, perlindungan mata air, penampungan air hujan, dan sumur artsis (Sanropie, 2004).
Untuk mencegah terjadinya diare maka air bersih harus diambil dari sumber yang terlindungi atau tidak terkontaminasi. Sumber air bersih harus jauh dari kandang ternak dan kakus paling sedikit sepuluh meter dari sumber air. Air harus ditampung dalam wadah yang bersih dan pengambilan air dalam wadah dengan menggunakan gayung yang bersih, dan untuk minum air harus di masak. Masyarakat yang terjangkau oleh penyakit air bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil bila dibandingkan dengan masyarakt yang tidak mendaptkan air bersih (Andrianto, 2005).
2)      Tempat Pembuangan Tinja
Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak tepat dapat berpengaruh berlangsungnya terhadap insiden penyakit tertentu yang penularannya melalui tinja antara lain penyakit diare (Haryoto, 2003).
Keluarga yang tidak memiliki jamban harus membuat dan keluarga harus membuang air besar di jamban. Jamban harus dijaga dengan mencucinya secara teratur. Jika tak ada jamban, maka anggota keluarga harus membuang air besar jauh dari rumah, jalan dan daerah anak bermain dan paling kurang sepuluh meter dari sumber air bersih (Andrianto, 2005).
Tempat pembangunan tinja yang tidak memehuni syarat sanitasi akan meningkatkan resiko terjadinya diare berdarah pada anak balita sebesar dua kali lipat dibandingkan keluarga yang mempunyai kebiasan membuang tinjanya yang memenuhui syarat sanitasi (Wibowo, 2003). Menurut hasil penelitian Iriantio (2006), bahwa anak balita berasal dari keluarga yang menggunakan jamban (kakus) yang dilengkapi dengan tangki septic, prevalensi diare 7,4 % terjadi di kota dan 7,2% di desa. Sedangkan keluarga yang menggunakan kakus tanpa tangki seprtik 12,1% diare terjadi di kota dan 8,9 % di desa. Kejadian diare tertinggi terdapat pada keluarga yang mempergunakan sungai sebagai tempat pembuangan tinja, yaitu 17,0% di kota dan 12,75 di desa.
3)      Pemberian air susu ibu (ASI)
ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi komponen zat makanan tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 4-6 bulan. Untuk menyusui dengan aman dan nyaman ibu jangan memberikan cairan tambahan seperti air, air gula atau susu formula terutama pada awal kehidupan anak. Memberikan ASI segera setelah bayi lahir, serta berikan ASI sesuai kebutuhan. ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare, pemberian ASI kepada bayi yang baru lahir secara penuh mempunyai daya lindung empat kali lebih besar terhadap diare dari pada enam bulan pertama kehidupannya, resiko mendapatkan diare adalah 30 kali lebih besar dibandingkan dengan bayi yang tidak diberikan ASI (Depkes, 2000).
Bayi yang memperoleh ASI mempunyai morbiditas dan mortalitas diare lebih rendah. Bayi dengan air susu buatan (ASB) mempunyai resiko lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang selain mendapat susu tambahan huga mendapatkan ASI, dan keduanya mempunyai resiko diare lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang sepenuhnya mendapatkan ASI. Resiko relatif ini tinggi dalam bulan-bulan pertama kehidupan (Suryono, 2008).
4)      Kebiasaan mencuci tangan
Diare merupakan salah satu penyakit yang penularannya berkaitan dengan penerapan perilaku hidup sehat. Sebagaian besar infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur oral. Kuman-kuman tersebut ditularkan dengan perantara air atau bahan yang tercemar tinja yang mengandung mikroorganisme pathogen dengan melalui air minum. Pada penularan seperti ini, tangan memegang peranan penting, karena lewat tangan yang tidak bersih makanan atau minuman tercemar kuman penyakit masuk ke tubuh manusia.
Pemutusan rantai penularan penyakit seperti ini sangat berhubungan dengan penyediaan fasilitas yang dapat menghalangi pencemaran sumber peralatan oleh tinja serta menghalangi masuknya sumber peralatan tersebut kedalam tubuh melalui mulut. Kebiasan mencuci tangan pakai sabun adalah perilaku amat penting bagi paya mencgah diare. Kebiasaan mencuci tangan diterapkan setelah buang air besar, setelah mengani tinja anak, sebelum makan terutama yang berhubungan langsung dengan makanan anak seperti botol susu, cara menyiapkan makanan serta tempat keluarga membuang tinja anak (Howard&Bartram, 2003).
Hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare dikemukakan oleh Bozkurt (2003) di Turki, orang tua yang tidak mempunyai kebiasaan mencucu tangan sebelum merawat anak, anak mempunyai resiko terkena  diare. Hellen (2008) juga mendapatkan adanya hubungan antara kebiasaan cuci tangan ibu dengan kejadian diare pada anak di Betim- Brazil.
Anak kecil juga merupakan sumber penularan penting diare. Tinja anak, terutama yang sedang menderita diare merupakan sumber penularan diare bagi penularan diare bagi orang lain. Tidak hanya anak yang sakit, anak sehat pun tinjanya juga menjadi carrier asimptomatik yang sering kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu cara membuang tinja anak penting sebagai upaya mencegah terjadinya diare (Sunoto, 2000). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Aulia (2004), di Sumatera Selatan, kebiasaan ibu membuang tinja anak di tempat terbuka merupakan faktor resiko yang besar terhadap kejadian diare dibandingkan dengan kebiasaan ibu membuang tinja anak di jamban.
5)      Imunisasi
Diare sering timbul menyertai penyakit campak, sehingga pemberian imunisasi campak dapat mencegah terjadinya diare.  Anak harus diimunisasi terhadap penyakit campak secepatnya mungkin setelah usia Sembilan bulan (Andrianto, 2005).
b.      Pencegahan Sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini ditujukan kepada si anak yang telah menderita diare atau yang terancam akan menderita yaitu dengan menentukan diagnose dini dan pengobatan yang cepat dan tepat, serta untuk mencegah terjadinya akibat samping dan komplikasi. Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit (rehidrasi) dan mengatasi penyebab diare. Diare dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti salah makan, bakteri, parasit, sampai radang. Pengobatan yang diberikan harus disesuaikan dengan klinis pasien. Obat diare dibagi menjadi tiga, pertama kemoterapeutika yang memberantas penyebab diare seperti bakteri atau parasit, obstipansia untuk  menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang membantu menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan. Sebaiknya jangan mengkomsumsi golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter. Dokter akan menentukan obat yang disesuaikan dengan penyebab diare misalnya bakteri, parasit, pemberian kemoterapeutik memiliki efek samping dan sebaiknya diminum sesuai petunjuk dokter (Syam F, 2006).

c.       Pencegahan Tertier
Pencegahan tingkat tiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami kecatatan dan kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahap ini penderita diare diusahakan pengambilan fungsi fisik, psikologis semaksimal mungkin. Pada tingkat ini juga dilakukan  usaha rehabilitas untuk mencegah terjadinya akibat samping dari diare. Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengkomsumsi makanan bergizi dan menjaga keseimbangan cairan. Rehabilitas juga dilakukan terhadap mental penderita dengan tetap memberikan kesempatan dan ikut memberikan dukungan secara mental kepada anak. Anak yang menderita diare selain diperhatikan kebutuhan fisik juga kebutuhan psikologis harus dipenuhui dan kebutuhan sosial dalam berinteraksi atau bermain dalam pergaulan dengan teman sepermainan. 


0 comments:

Post a Comment