Monday, February 18, 2013

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU MASA NIFAS


BAB I
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU MASA NIFAS

Asuhan yang diberikan pada ibu selama masa nifas dan berada dirumah, lebih difokuskan pada perawatan dan pengawasan. Karena pada masa nifas ibu cendrung lebih rentan dan sensitive.
Yang dimaksud dengan asuhan nifas adalah Asuhan yang diberikan pada ibu yang  dimulai dari setelah melahirkan sampai dengan 6 minggu setelah persalinan. Biasanya intervensi ini dilakukan dirumah.

MASA NIFAS ADALAH
Masa istirahat selama 4o hr sesudah seorang  ibu melahirkan dan masa ini berlansung selama kira-kira 6 mg.

TUJUAN ASKEB NIFAS ADALAH
               Menurunkan angka kematian ibu nifas dan bayi
               Menurunkan angka kejadian infeksi  pada ibu nifas dan bayi
               Medeteksi sesegera mungkin komplikasi dan merujuk pada saat yang tepat
               Mendukung dan memperkuat keyakinan diri ibu dalam melaksanakan peran sebagai ibu baik dalam merawat bayi dan pemberian asi.



BAB II
PELAYANAN YANG HRS DIBERIKAN PADA MASA NIFAS

         Idealnya  4 kali selama masa nifas
         Minimal 2 kali  pemeriksaan harus dilakukan selama ibu masa nifas, 1 kali minggu pertama, dan pemeriksaan kedua sebelum minggu keempat setelah melahirkan.  

PEMERIKSAAN ATAU KUNJUNGAN MASA NIFAS 4 KALI YAITU :

*   Pertama  6-8 jam  setelah persalinan adapun kegiatanya :
     Bidan mengajarkan ibu untuk memeriksa kontraksi uterus,pemberia asi dini, memberikan suntikan vit k, vit tambah darah,kapsul vit A, tanda bahaya pd masa nifas, dan BBL.perawatan tali pusat,dan perawatan bayi sehari-hari.
     
*   Kedua 6 hari setelah persalinan kegiatanya adalah
Bidan memastikan pengecilan otot rahim berjalan normal, memastikan ibu menyusui bayinya dengan benar, dan memberitahukan tanda bahaya pd ibu dan bayi, dan perawatan nya.

*   KETIGA 2 MG SETELAH PERSALINAN 
sama dengan pelayanan yang diberikan pada saat 6 hr setelah melahirkan
*   KEEMPAT 6 MG SETELAH PERSALINAN
Bidan menanyakan apakah ada penyulit dan bayi, dan mulai membicarakan tentang kontrasepsi yang mungkin menjadi pilihan ibu dan keluarga.

TANDA BAHAYA PADA IBU NIFAS

         Jumlah perdarahan lebih dari 1 kain pembalut dalam waktu 1 jam dan ada gumpalan darah dan perdarahan mengalir terus menerus.
         Ada deman tinggi lebih dari 2 hr
         Keluar cairan berbau dari vagina.
         Ada nyeri hebat dari rahim ibu.
         Bengkak dimuka,tangan,kaki,sakit kepala serta kejang.
         Payudara bengkak dan kemerahan disertai rasa sakit
         Tekanan darah yang meningkat ibu merasa pusing dan lemas berlebihan.

KEBUTUHAN DASAR IBU  SELAMA MASA NIFAS :
*         KEBERSIHAN DIRI
*         ISTIRAHAT
*         LATIHAN SENAM
*         GIZI/NUTRISI DAN CAIRAN
*         PERAWATAN PAYUDARA
*         SEXSUAl / KELUARGA BERENCANA
*         ELIMINASI BAB DAN BAK


BAB III
POST PARTUM BLUES

post-partum blues sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca-salin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan, dan ditandai dengan gejala-gejala seperti : reaksi depresi /sedih/disforia, menangis , mudah tersinggung (iritabilitas), cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur dan gangguan nafsu makan. Gejala-gejala ini mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun pada beberapa minggu atau bulan kemudian, bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat.
post-partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksanai sebagaimana seharusnya, akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis pasca-salin, yang mempunyai dampak lebih buruk, terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anaknya.
Dalam dekade terakhir ini, banyak peneliti dan klinisi yang memberi perhatian khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin, dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejala-gejala tersebut. Berbagai studi mengenai post-partum blues di luar negeri melaporkan angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85%, yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan kriteria diagnosis yang digunakan.

Banyak faktor diduga berperan pada sindroma ini, antara lain adalah:

1)       Faktor hormonal, berupa perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estriol yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Kadar estrogen turun secara bermakna setelah melahirkan, ternyata estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase. Yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi baik noradrenalin maupun serotonin yang berperan dalam suasana hati dan kejadian depresi;

2)       Faktor demografik yaitu umur dan paritas;
3)       Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan;
4)       Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan, seperti; tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial dari lingkungannya (suami, keluarga dan teman). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga, dan teman memberi dukungan moril (misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga, atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah) selama ibu menjalani masa kehamilannya.

Di luar negeri skrining untuk mendeteksi gangguan mood / depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan sebagai alat bantu.
 Endinburgh Posnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. Pertanyaan-pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post-partum blues . Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan, di mana setiap pertanyaan memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit. Cox et. Al., mendapati bahwa nilai skoring lebih besar dari 12 (dua belas) memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% untuk mendiagnosis kejadian post-partum blues . EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda, Swedia, Australia, Italia, dan Indonesia. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 (dua) minggu kemudian.

Post-partum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang ‘ berjuang ‘ sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya Untuk minta pertolongan, seringkali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak, tidak gelisah, minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai.
Penanganan gangguan mental pasca-salin pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momen-momen lainya. Para ibu yang mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat, dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan, dapat diberikan pertolongan dari para ahli, misalnya dari seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut.
Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri, yaitu: dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya.
Dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik dalam penanganan para ibu yang mengalami post-partum blues . Pengobatan medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara bersama-sama, dengan melibatkan lingkungannya, yaitu: suami, keluarga dan juga teman dekatnya.

0 comments:

Post a Comment