Sunday, December 15, 2013

CONTOH SAL PATOLOGI KEBIDANAN



SOAL ASKEB IV (PATOLOGI KEBIDANAN)
PENGAJAR     :   
JUMLAH SKS :  2 SKS
WAKTU           :  100 Menit
JENIS SOAL    :  Choise, Essay, Analisa Kasus


Pilihlah salah satu jawaban yang benar menurut anda dengan memberikan tanda (x) pada lembaran jawaban yang telah di berikan

  1. Pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar adalah pengertian dari …
    1. Pemeriksaan Intra natal Care (INC)
    2. Pemeriksaan Nifas
    3. Pemeriksaan Ante natal care (ANC)
    4. Pemeriksaan ibu menyusui

  1. Salah satu infeksi yang menyertai kehamilan dan persalinan yang di tularkan melalui makanan mentah yang tercemar dan secret kucing yang terinfeksi adalah…
    1. Infeksi Rubella
    2. Infeksi CytomegaloVirus
    3. Infeksi Tixoplasmosis
    4. Infeksi Sifilis

  1. Pengertian anemia adalah..
    1. Kurangnya konsentrasi darah dalam hemoglobin
    2. Kurangnya konsentrasi hemoglobin dalam kadar glukosa darah
    3. Kurangnya kadar hemoglobin dalam darah
    4. Kurangnya kadar hemoglobin dalam tekanan darah tinggi

  1. Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada usia kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih berada di dalam kavum uteri dan tidak adanya dilatasi serviks di sebut dengan ...
    1. Abortus
    2. Abortus insipien
    3. Abortus imminens
    4. Abortus incomplete

  1. Salah satu tanda preeklampsia ringan adalah
    1. Tekanan darah 140/90 MmHg
    2. Tekanan darah 140/80 mmHg
    3. Tekanan darah 140/110 MmHg
    4. Tekanan darah 180/110 MmHg

  1. Perdarahan yang terjadi pada trimester akhir kehamilan di sebut dengan
    1. Perdarahan Intra partum
    2. Perdarahan Post-partum
    3. Perdarahan Inter partum
    4. Perdarahan Ante partum

  1. Terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan disebut dengan...
    1. Plasenta previa
    2. Solusio plasenta
    3. Vassa previa
    4. Plasenta sirkumvalata

  1. Plasenta yang menutupi sebagian dari ostium uteri internum disebut dengan ...
    1. Plasenta previa totalis
    2. Plasenta previa lateralis
    3. Palsenta previa marginalis
    4. Plasenta letak rendah

  1. Plasenta yang berjarak ± 5 cm dari ostium uteri internum adalah pengertian dari:
    1. Plasenta previa totalis
    2. Plasenta previa lateralis
    3. Palsenta previa marginalis
    4. Plasenta letak rendah

  1. Salah satu tempat terjadinya Kehamilan Ektopik adalah :
    1. Dinding anterior uterus
    2. Dinding posterior uterus
    3. Kavum uteri
    4. Seviks uteri

ESSAY :

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jelas...
  1. Jelaskan pengertian KPSW (ketuban pecah sebelum waktunya) dan sebutkan apa pengaruh KPSW bagi ibu dan janin
  2. Jelaskan perbedaan pertumbuhan janin kembar monozigotik dan dizigotik
  3. Jelaskan  pengertian dari :
a.       Premature
b.      Post mature
c.       Letak lintang
d.      Letak sungsang
e.       Polihidramnion
f.       Oligohidramnion










ANALISIS KASUS
Bacalah kasus di bawah ini dengan cermat, kemudian jawablah pertanyaan yang ada di bawah dan dokumentasikan kasus tersebut dalam metode pendokumentasian SOAP.

Tgl : 28-05-2010,       pukul : 09. 45 WIB
Ny, W usia 23 tahun datang ke klinik anda dengan alasan ingin memeriksa kehamilannya, ia mengatakan ini adalah anaknya yang kedua, dan pernah mengalami keguguran 1 kali pada usia kehamilan 4 minggu. Ia mengatakan HPHT : tgl 05-3-2010.
Ny w mengeluh mual muntah di pagi hari dan mual muntah tersebut tidak sampai mengganggu aktifitasnya, ia juga mengatakan cemas dengan janin yang di kandungnya.
Data pemeriksaan yang anda lakukan di dapatkan :
TD : 110/70 MM Hg
Pulse : 82 X / m
Temp :37◦ C
RR : 24 X/ m
Keadaan umum : baik

Pertanyaan :
-  Tentukan TTP dari HPHT Ny. W dan berapa usia kehamilannya
-  Buatlah pendokumentasian tersebut dalam model pendokumentasian SOAP
  ( bobot 30 )

PENGARUH MOTIVASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BIREUEN

I.              Pendahuluan
Program peningkatan mutu pendidikan selama ini secara terus menerus selalu dilaksanakan, namun mutu pendidikan yang dicapai kelihatannya masih belum memuaskan. Oleh sebab itu para pendidik hendaknya memainkan peran yang lebih strategis. Para pendidik yang dimaksud adalah tenaga kependidikan pada lembaga pendidikan formal, termasuk di dalamnya supervisor pendidikan.
Menurut struktur Departemen Pendidikan Nasional, bahwa yang termasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penilik sekolah, dan para pengawas di tingkat kabupaten/kotamadya, serta staf kantor bidang yang ada di tiap propinsi (Purwanto, 2002: 78).Dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan (Tim Fokusmedia, 2003: 3). Jadi, termasuk di dalamnya para pengawas yang dalam kedudukannya antara supervisor dan fasilitator diharapkan untuk bekerja keras dalam upaya pemutuan pendidikan. Karena itulah, dapat dirumuskan bahwa pencapaian mutu pendidikan yang tinggi, bukan saja terletak di tangan para guru, tetapi juga terletak di tangan para pengawas. Secara kelembagaan, pengawas sekolah menengah merupakan tenaga kependidikan yang dalam strukturnya berada pada Dinas tingkat kabupaten / kotamadya, ia menangani dalam artian mengawasi beberapa sekolah menengah sesuai dengan wilayah yang diberikan kepadanya. Dalam kaitan ini pengawas sekolah harus memiliki komitmen kuat terhadap jabatan dan statusnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Komitmen pengawas terhadap tugas-tugas kepengawasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Danim (2002: 83), menunjukkan keragaman. Hal ini wajar karena masing-masing pengawas memiliki persepsi yang berbeda tentang penjabaran tugas-tugasnya, dan pada sisi lain para pengawas masing-masing berbeda obyek kepengawasannya, misalnya ; bagi si A mengawasi beberapa sekolah yang letaknya jauh dari kota, sementara si B mengawasi beberapa sekolah yang letaknya dikota. Juga pada sisi lain, terjadinya perbedaan identifikasi dan obyek pengawasan. Hal ini semua menyebabkan adanya persepsi kepengawasan yang berbeda-beda, yakni;
Pertama, sebagian memersepsi keputusan untuk memangku jabatan fungsional atau melakukan mutasi dari instansi sebelumnya ke posisi pengawas untuk memperpanjang masa kerja, tanpa menghilangkan komitmen mereka terhadap profesi kepengawasan.
Kedua, sebagian lagi memandang bahwa tugas dan fungsi kepengawasan yang harus dijalankan merupakan panggilan profesi yang melekat pada dirinya, termasuk dalam kapasitas sebagai PNS. Dalam melaksanakan profesinya itu, pada umumnya mereka berpendapat bahwa dimensi eksternal, struktural-institusional, keterbatasan sumber daya teknikal, dan fasilitatif seringkali menjadi sumber kendala. Meskipun begitu, kendala-kendala tersebut tidak mereduksi komitmen mereka untuk menjalankan tugas-tugas kepengawasan. Berkaitan dengan loyalitas, mereka berpendapat bahwa loyalitas pada atasan dan kepada status sebagaiPNS lebih dominan daripada loyalitas kepada profesi kepengawasan. Loyalitas semacam ini melekat pada dirinya karena sudah mengakar sejak mereka diangkat sebagai PNS dan menduduki beberapa jabatan sebelum diangkat sebagai pengawas.
Ketiga, sebagian lagi memandang profesi kepengawasan identik dengan tugas-tugas institusional yang digariskan oleh atasan dan yang melekat pada dirinya sebagai PNS. Mereka berpendapat, loyalitas pada status sebagai PNS adalah mutlak, sedangkan loyalitas pada profesi merupakan hal yang implisit. Persepsi semacam ini mewarnai kinerja keseharian mereka yang cenderung lebih bermental sebagai tenaga administratif dari pada tenaga fungsional.

II.           Kinerja Pengawas Sekolah dalam Upaya Peningkatan Mutu
Tenaga struktural di lingkungan Dinas Pendidikan, terutama dari Kasi ke atas, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dalam menjalankan tugas-tugas kedinasan seringkali berfungsi ganda, yaitu melakukan pembinaan akdemik dan pembinaan adminsitratif. Fungsi pembinaan akademik dijalankan oleh mereka antara lain tatkala menjadi penatar, sedangkan fungsi administratif tetap melekat pada jabatannya.
Berbeda dengan pengawas, termasuk di dalamnya pengawas tingkat menengah yang cenderung melakukan fungsi tunggal, yaitu fungsi pembinaan dan pengembangan profesionalitas kepala sekolah dan guru, serta perbaikan mutu pendidikan tingkat mikro yang ada pada wilayah tugasnya. Kaitannya dengan ini, dan untuk mengetahui peranan kinerja pengawas sebagai tenaga pengembang dideskripsikan oleh Danim (2002: 91), sebagai berikut:
Pertama, dalam melaksanakan fungsi pembinaan dan bimbingan profesional, pada umumnya pengawas sudah tampil pada lingkup tugas dan fungsi yang harus dijalankan.
Kedua, sebagian lagi memandang bahwa pengawas belum memiliki tingkat profesionalitas yang tinggi, namun cukup memadai dalam melaksanakan tugas pembinaan, baik dalam bidang administratif, akademik, maupun teknis.
Ketiga, menurut penilaian atasan, mereka dipandang memiliki kemauan dan kemampuan untuk tumbuh mandiri secara professional; mampu menciptakan hubungan kerjasama dan koordinasi yang baik dengan Kepala Diknas, Kasubdit Dikmenum, dan Dinas Diknas Kabupaten/Kota; dan dapat menjalin hubungan harmonis dengan kepala sekolah dan guru-guru.
Keempat, pengawas cukup berpengalaman dalam bidang kebijakan dan praktik kependidikan, tugas-tugas kepengawasan, banyak aktif di kelompok kerja guru (KKG), dan memiliki pengalaman yang cukup luas dalam bidang organisasi dan kemasyarakatan.
Kelima, pada aspek personal pengawas dipersepsi telah memiliki kemampuan hubungan personal dan sosial yang harmonis.
Keenam, pengawas sendiri merasakan masih ada kelemahan dalam berbagai hal, terutama berkaitan dengan pemilihan strategi efektif dalam menerapkan prinsip, teknik, fungsi dan sasaran supervisi.
Ketujuh, kelemahan itu mereka rasakan juga dalam hal menjalankan tugas, seperti penguasaan bidang studi tertentu, dan penguasaan teori dan praktek BP/BK di sekolah.
Kedelapan, pengawas masih merasakan ada kelemahan dalam hal kompetensi pribadi bagi pelaksanaan pembinaan, pengendalian, dan penilaian terhadap guru dan kepala sekolah, serta kiat melakukan hubungan sosial dan kemasyarakatan.
Berdasarkan persepsi di atas, maka dapat dirumuskan kinerja pengawas sekolah menengah dalam satu sisi dipandang sangat memadai untuk meningkatkan kemampuan profesional, pribadi, dan sosial mereka erat kaitannya dengan tugas-tugas mikro pembelajaran atau untuk pelaksanaan tugas-tugas operasional. Di sisi lain, kinerja pengawas sekolah menengah dianggap simultan untuk mewujudkan peningkatan mutu pendidikan dengan harus melakukan program pembinaan profesional para guru-guru secara kontinyu atau terus-menerus, teratur dan komprehensif.
Dengan demikian, dapat dirumuskan di sini bahwa dalam rangka pemutuan pendidikan khusus pada tingkat sekolah menengah, maka pengawas sekolah menegah tersebut hendaknya melakukan hal-hal berikut :
1.      Membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru dan pegawai sekolah lainnya dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya.
2.      Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan termasuk macam-macam media instruksional yang diperlukan bagi kelancaran proses belajar mengajar yang baik.
3.      Bersama kepala sekolah, guru-guru berusaha mengembangkan, mencari dan menggunakan metode-metode baru dalam proses belajar mengajar yang lebih baik
4.      Membina kerjasa sama yang baik dan harmonis antara kepala sekolah, guru-guru dan ppihak-pihak terkait, termasuk siswa.
5.      Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dengan melakukan bimbingan baik secara individu maupun secara berkelompok.
Kinerja pengawas sekolah menengah dapat dilihat dari bagaimana upaya mengendalikan dalam artian mengawasi pelaksanan kurikulum, pelaksanaan pengajaran, pengelolaan keuangan sekolah, dan jika kesemuanya ini berjalan dengan baik, praktis bahwa mutu pendidikan mengalami peningkatan yang signifikan. Sebaliknya, bila pengawas sekolah tidak mampu bertindak sebagai pengendali, praktis bahwa kinerjanya dianggap kurang memadai.
Di samping sebagai pengendali, kinerja pengawas sekolah menengah apat dilihat dari kemampuannya dalam melaksanakan program subervisi sekolah, serta memberi petunjuk perbaikan terhadap peyimpangan dalam pengelolaan sekolah.
Yang terpenting pula untuk melihat kinerja pengawas sekolah menengah adalah bagaimana ia melaksanakan tugas-tugas dengan baik dalam hal menilai proses dan hasil pelaksanaan kurikulum berdasarkan ketetapan waktu; menilai pelaksanaan kerja tenaga teknis sekolah; menilai pemanfaatan sarana sekolah; menilai efisiensi dan keefektifan tata usaha sekolah; menilai hubungan kerja sama dengan masyarakat. Jadi, jelaslah bahwa kinerja pengawas sekolah menengah dalam peranannya, ia sebagai supervisi, pengendali dan penilai dalam dunia pendidikan, yang pada gilirannya jika ia memperlihatkan kinerjanya yang efektif dan efisien sesuai dengan kewajiban, maka akan bermuara pada pencapaian mutu pendidikan yang tinggi.

III.        Penutup
Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan selama ini yang secara terus menerus selalu dilaksanakan, memiliki keterkaitan erat dengan kinerja pengawas sekolah.Pengawas sekolah menengah di tingkat kabupaten/kotamadya, yang kedudukannya termasuk sebagai sebagai tenaga kependidikan sangat urgen artinya, karena ia bertindak sebagai supervisor, fasilitator, pengendali dan penilai dalam setiap kegiatan pendidikan.
Tugas dan peran yang diemban oleh pengawas sekolah menengah tersebut, jika terlaksana dengan baik sesuai dengan juklak dan peraturan perundang-undangan pendidikan, maka dapat dianggap bahwa ia telah memiliki kinerja yang baik dan pada gilirannya akan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan.











KEPUSTAKAAN


Danim, Sudarman.  Inovasi  Pendidikan  dalam  Upaya  Peningkatan
Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia, 2002.

Purwanto, M. Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
Rodakarya, 1998.

Republik Indonesia. Peraturan pemerintah No. 38 Tahun 1992 tentang Tenaga
Kependidikan. Jakarta: Depdikbud, 1992.

Sidi, Indra Jati (ed). Menuju Masyarakat Belajar; Menggagas Paradigma Baru
Pendidikan. Jakarta: Paramadina, 2001.

Suryadi. A. Tilaar. H.A.R. Analisis Kebijakan Pendidikan; Suatu Pengantar.
IBandung: Remaja karya, 1993.

Tim Redaksi Fokusmedia. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Nomor
20 Tahun 2003. Bandung: Fokusmedia, 2003


Tuesday, August 27, 2013

7 Masalah yang Umum Dialami Wanita Saat Bercinta

Siapa bilang semakin bertambah umurnya, wanita tidak bisa menikmati bercinta? Melalui buku terbarunya, seorang terapis seks Dr. Marty Klein membagi kiatnya bagaimana agar wanita dapat memperoleh apa yang mereka inginkan saat berhubungan intim dengan pasangan.

Tidak sedikit orang beranggapan semakin menurunya hasrat seks merupakan bagian dari pertambahan usia. Namun menurut terapis seks dan pernikahan, Dr Marty Klein, hal tersebut sebenarnya bisa saja tidak terjadi.

Melalui penelitian dan pengalamannya menjadi konsultan, Dr Klein membeberkan rahasia bagaimana agar gairah seks itu tetap ada sepanjang usia. Seperti dikutip dari Daily Mail, rahasia tersebut diungkapkan di buku terbarunya 'Sexual Intelligence-What We Really Want From Sex And How To Get It'.

Dalam bukunya, wanita yang sudah menulis enam buku tentang seks itu mengatakan, jika wanita ingin menikmati seks, seiring berbagai perubahan terjadi dalam diri mereka, wanita harus mengembangkan berbagai model bercinta. Dr Klein menegaskan jika wanita bisa menepis semua mitos yang beredar tentang seksualitas, hubungan seks dengan suami pun bisa tetap sama menyenangkannya seperti masa pengantin baru meskipun usia semakin bertambah.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan agar wanita bisa mengatasi berbagai kecemasan saat bercinta dan mendapatkan apa yang diinginkannya:

1. Ketika Tidak Percaya Diri dengan Tubuh
Tidak sedikit wanita merasa tubuhnya tidak ideal. Apakah Anda termasuk? Coba pikirkan lagi, tubuh tersebut satu-satunya yang Anda punya, jadi kenapa harus malu dan tidak membanggakannya.

Namun memang di tengah gencarnya iklan tubuh ideal, tentu akan mudah sekali timbul perasaan kalau tubuh Anda tidak masuk kategori ideal atau seksi. Dengan perasaan tidak percaya diri itu, wanita jadi sulit mendapatkan kenikmatan atau gairahnya saat bercinta.

Dr Klein mengatakan rasa tidak percaya diri memang salah satu pembunuh gairah paling umum pada wanita. Jadi kalau Anda tidak mau gairah tersebut hilang, hapus semua perasaan tidak percaya diri itu. Seberapapun tidak nyamannya Anda pada penampilan, Anda harus menyingkirkan pikiran tersebut. Jangan pikirkan soal selulit atau lemak di tubuh. Rileks saja dan biarkan perasaan seksi itu datang. Seksi itu justru dengan menjadi diri sendiri.

2. Ketika Pekerjaan Rumah Menunggu
Saat ingin bercinta, wanita seringkali sudah membayangkan skenario bagaimana agar aktivitas tersebut berlangsung dengan sempurna. Wanita ingin hubungan intim dilakukan saat luang, tidak ada gangguan, tidak ada pekerjaan rumah yang menunggu, dan masih banyak lagi.

Beberapa hal yang diinginkan wanita tersebut memang bisa saja tercapai. Namun di masa sekarang ini, ketika kehidupan semakin menuntut Anda untuk terus sibuk, tentu tak semua skenario seks itu bisa diwujudkan.

Menurut Dr Klein, jika ingin tetap menikmati seks, pasangan harus siap bercinta, meski kondisinya tidak ideal. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan dalam skenario 'sempurna' yang selama ini sudah dibayangkan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dr Klein menyarankan, cobalah untuk lebih sering mengatakan 'ya' ketimbang 'tidak'. Misalnya saja ketika Anda ingin bercinta di pagi hari, tapi merasa aktivitas tersebut bisa membuat Anda terlambat. Belum lagi ada begitu banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum berangkat kerja. Tentu saja, ketimbang bercinta, Anda memilih menyelesaikan semua urusan. Namun sesuai saran Dr Klein, cobalah untuk mengatakan 'ya' pada seks meski ada banyak hal yang Anda pikirkan. Dengan mengatakan 'ya', setelahnya Anda bisa merasa lebih bahagia.

3. Rencanakan Bercinta
Sampai saat ini masih banyak orang beranggapan, seks yang ideal adalah spontan atau terjadi secara natural. Anggapan tersebut datang karena di awal pernikahan, hal itulah yang terjadi. Pasangan bisa bercinta kapan saja, tanpa mereka rencanakan.

Seiring pertambahan usia pernikahan, tentu saja kehidupan juga berubah. Anda dan suami jadi lebih memiliki banyak tanggungjawab. Ketika hal ini terjadi, kalau seks hanya dilakukan saat spontan atau secara natural, tentu bisa dihitung dengan jari berapa kali dalam sebulan Anda bercinta.

Ketika usia semakin dewasa dan pernikahan sudah berlangsung bertahun-tahun, Dr Klein mengatakan, sangat perlu untuk membuat rencana bercinta. Apalagi jika Anda dan pasangan telah memiliki anak.

Jadwal bercinta ini perlu dibuat agar Anda dan pasangan bisa menyiapkan mood untuk melakukan aktivitas intim tersebut. Apakah nantinya jadwal atau rencana bercinta itu harus dijalankan atau tidak, terserah Anda dan suami. Bisa saja Anda dan pasangan pada akhirnya hanya saling berpelukan di sofa. Meski tidak bercinta, setidaknya keintiman dengan pasangan tetap bisa terjalin.

4. Bagaimana Menolak Bercinta
Saat masih menjadi pengantin baru, bercinta rasanya mudah saja. Anda dan pasangan bisa melakukan aktivitas tersebut kapan saja, saat situasi dan kondisi memungkinkan. Rasanya di masa itu, tidak perlu ada pihak yang berinisiatif lebih dulu.

Namun setelah beberapa tahun menikah, kondisi di atas tidak lagi terjadi. Pola yang kemudian terjadi adalah, hanya salah satu pihak yang mengajak atau meminta bercinta. Sehingga membuat pihak yang satu berada dalam situasi harus menolak atau menerima ajakan tersebut. Di sinilah problema menjadi muncul. Ketika memberikan penolakan, tentunya Anda ingin pasangan tidak merasa kecewa.

Kalimat seperti apa yang sebaiknya dikatakan ketika ingin menolak bercinta? Dr Klein menyarankan jangan langsung mengatakan tidak. Anda bisa menggunakan kalimat yang lebih menyenangkan seperti, 'aku sedikit lelah, bisakah kita menunggu sampai besok' atau 'aku ingin, tapi ada begitu banyak urusan pekerjaan di otakku, aku tidak akan benar-benar 100%, apakah kamu masih menginginkannya'. Kejujuran, ditekankan Dr Klein, sangat penting di sini.

Selain empat hal di atas, ada lagi masalah yang umumnya dialami wanita saat bercinta.